Selamat Datang Di Blog kesayangan Dewi Lestari Al-Fatih, dibaca baik-baiknya!

Pages

Featured Posts

Selasa, 11 Februari 2014

Jilbab Is My Identity

Reuni SMA fix akan diadakan  hari Jum’at pekan ini. Aku mendapatkan pemberitahuan via media sosial, Facebook. Hari ini barulah hari Senin sore. Tak sabar aku menanti hari Jum’at. Rasa ingin segera bersua membuncah dalam hati. Jumlah kami yang tak banyak, membuat keakraban yang tercipta  sulit untuk  dibumi hanguskan. Masa putih abu-abu itu memberikan warna tersendiri bagi kehidupanku. Aku  bersekolah di SMA swasta islam terpadu yang terletak di kaki gunung Ciremai. Para nenek moyang menamakan Desa tempat sekolahku berdiri megah dengan nama Desa Peusing.

 Selama  9 tahun berdiri, angkatanku merupakan angkatan terbaik. Jumlah siswa seangkatanku hanya 56 orang. Jumlah yang sedikit bukan? Walaupun begitu banyak kejuaraan yang telah berhasil kami sabet, baik tingkat kabupaten maupun tingkat luar kabupaten. Tak bisa dianggap remeh prestasi yang telah berhasil kami ukir. Teman-temanku adalah orang-orang yang luar biasa dalam perihal prestasi akademik maupun non akademik. Ah, sungguh aku benar-benar merindukan mereka semua.\ Ketika rindu menerjang, acapkali aku melakukan pengintaian akun facebook atau twitter milik mereka. Ingin ku tau seberapa besar perubahan mereka.   Ya, aku memang benar-benar kepo. Miris terkadang yang menyelimuti hati, ketika ku tahu ada teman perempuanku yang telah menghempaskan khimarnya dari style costumnya saat ini. Ada pula mereka yang berpakaian serba ketat namun tetap berkhimar, berbaju lengan panjang dan bercelana jeans. Sungguh, para ustadzah di sekolahku tak pernah mengajarkan cara berpakaian seorang muslimah yang seperti itu. Bukan hanya perihal busana saja, ada pula teman perempuanku yang semakin hari semakin menggalau dengan sesosok laki-laki tambatan hatinya. “duh, duh, duh… udah mahasiswa kok masih galau karena urusan laki-laki sih. :-D ayolah melek dengan permasalahan umat!”  komentar nyelenehku ketika menanggapi status galaunya di facebook. Yah, yah, yah inilah fenomena pemuda di zaman yang semakin menggila .

 Berjalannya waktu di era globalisasi ini cepat berlalu, tak terasa setiap detik yang telah datang merayu. Kini telah tiba hari yang di tunggu-tunggu, si rajanya hari tentu si yaumul jumu’ah.Pukul 09.00 WIB, pukul yang telah kami sepakati untuk acara temu kangen ini. Alhamdulillah, mentari di pagi ini pun ikut serta memancarkan cahaya terbaiknya, berbeda dengan sinar mentari di dua hari kemarin yang senantiasa menampilkan cahaya muram durjanya. Mentari yang menyinari, membuat semangat manusia-manusia yang hendak melakukan aktivitas diri.Tepat pukul 09.00 WIB aku telah sampai di depan gerbang  SMA tempat dulu menimba ilmu.

“Imaaa…” ada yang menyahutiku dari kejauhan sebelah kiri. Langkah kakiku terhenti seketika, aku menoleh kearah suara itu berasal.

“hey, Ayyi…” tembalku gembira. Aku melangkah mendekatinya, begitupun dengannya.

“kau masih tetap kecilnya, Ayyi.” Ledekku  kepada Ayyi ketika kami sudah berdekatan.“ah, Ima jangan mengejek lah. Kecil-kecil juga kan yang penting masih imut. Hehe Ima baru sadar aku, sekarang kau bergamis?”

“udah mahasiswa juga pengen aja dianggap imut. Hmm… iya Ayyi sekarang aku bergamis. Diperkuliahan aku mendapatkan teman-teman yang luar biasa dalam menjaga keistiqomahan di jalan-Nya.” Ucapku disertai seulas senyum diakhir kalimat.

“Subhanallah sekali Ima, selepas SMA hingga sekarang menjajaki dunia perkuliahan, aku belum berani untuk memutuskan bergamis. Yah, bisa kau lihat penampilanku saat ini !”

Senyumku mengembang mendengar ucapan Ayyi. “kalau aku boleh tau, mengapa kau belum berani untuk bergamis?” tanyaku penuh selidik kepadanya.
 “jujur aku bahagia loh Ayyi melihat penampilanmu yang masih senantiasa menutupi aurat dan tidak memperlihatkan lekukan tubuhmu itu.” Tambahku kemudian

.“aku tau menutup aurat itu adalah kewajiban kita selaku muslimah, Ima. Aku berusaha istiqomah  untuk tidak mengenakan celana jeans dan baju ketat seperti yang kebanyakan mahasiswi pakai. Alasan aku belum berani bergamis, karena Wa perempuanku dan Ibuku tidak mendukung untuk berpenampilan seperti itu. Untuk aku berpakaian mengenakan rok, baju panjang dan longgar serta kerudung paris yang kerapkali ku double pun mereka banyak berkomentar.”

Udara  ku hirup panjang setelah mendengar penjelasan Ayyi. “Lagi-lagi keluarga yang menjadi bumerang!” geramku dalam hati.

“kau harus tau Ayyi, aku pun merasakan apa yang kau rasakan. Keluargaku tak sepenuhnya mendukung aku berpakaian seperti ini.  Penolakan keras aku dapatkan dari Bibi dan Bibi iparku. Tapi kuabaikan semuanya. Aku bersikukuh untuk mengambil jalanku sendiri. Ini kan perintah Allah, massa mau dikalahkan dengan perintah manusia. Jangan pernah mundur Ayyi untuk menjalankan apa yang diperintahkan-Nya !” ceramahku dihadapannya sekaligus untuk menyemangatinya.

Sayyidah Althof itulah nama lengkap Ayyi. Dia gadis dengan perawakan kecil, berkacamata asal Indramayu. Kami berbeda jurusan. Aku dari jurusan IPS dan dia dari jurusan IPA. Walau begitu, kami sering bertukar cerita, bertukar pendapat dan acapkali kami pun bertukar mimpi. Aku kenal betul Ayyi. Dia anak yang penurut, menghormati setiap keinginan orang tuanya dan dia  sesosok r emaja yang easy going. Banyak yang senang berteman dengannya, termasuk aku.Sekali pernah kulihat ibunya. Dia seorang  lulusan S-1 dengan pakaiannya yang cukup modis dan berkhimar ala ibu pejabat. Dari segi berbusana, tak mencerminkan ia sesosok ibu yang paham akan Islam secara mendalam.  Dengan sifat Ayyi yang penurut dan sulit untuk berkata ‘tidak’ dihadapan orang tuanya, pantas sajalah ia belum sanggup untuk menentang setiap perkataan yang dikeluarkan  ibu maupun ayahnya.

 Kira ku mengira, tekad yang bersemanyam dalam hati Ayyi pun belum begitu membumi. Ketika tekad sudah mengakar aral rintangan sebesar apa pun akan mampu menghalaunya.Tekad yang kuat akan di dapat ketika kita mengejar hidayah-Nya. Hidayah tak mungkin datang sendiri tanpa kita mau mencarinya, caranya ya belajar tentang Islam secara mendalam jangan merasa cukup dengan apa yang orang tua, guru atau teman ajarkan tentang islam kepada kita. Pelajaran ini semua berhasil aku kantongi berdasarkan pengalamanku dibesarkan di keluarga yang tak kental akan pemahaman Islam. 

Keluargaku tentu muslim semua. Bagi mereka seorang muslim cukup bisa sholat, membaca Al-Qur’an, puasa Ramadhan, zakat fitrah dan sedekah ala kadarnya saja.Aku tumbuh dan besar dibawah asuhan nenek dan kakek sejak kelas 1 SD sampai aku lulus SMA. Mamaku tak banyak tahu tentang perkembanganku, kami hanya bertemu dalam setiap lebaran Idul Fitri. Sementara ayahku telah menghilang dari dunia ini sejak aku berumur 5 tahun.Nenek dan kakekku tipe orang yang pemarah, mudah sekali marah. Sedikit aku melakukan kesalahan maka bersiap-siaplah aku akan kena hajar omongan mereka. Ketika kecil aku merasa bahwa dunia ini kejam. Ya, sungguh benar-benar kejam ! pikirku seketika itu kekejaman harus dibayar dengan kekejaman pula. Hingga pada waktu itu, entah apa yang meraksuk hati seorang Ima Mutmainah kecil sampai-sampai ia sudah berani melakukan hal-hal yang tak pantas untuk dilakukan. Mulai dari berbohong, mencuri, menjaili teman-teman yang dianggap menyebalkan hingga berani memarahi nenek, kakek dan mama ketika ada satu hal yang tak disuka oleh Ima Mutmainah kecil. Oo iya, satu hal lagi yang tak pantas aku lakukan ketika kecil, yaitu merokok. Di bangku kelas 4 SD aku sudah mulai merokok. Mencontoh kedua pamanku.

Keluargaku penuh dengan pertikaian dan kemarahan. Dalam mendidik aku pun, acapkali mereka menyertakan amarahnya. Bukan rasa takut dan ingin patuh yang menyelimutiku tapi rasa memberontak yang membuncah dalam jiwa ini. Boro-boro mengajariku Islam secara mendalam, mereka malah sibuk dengan urusan keduniawiaan masing-masing. Ya, bagi keluargaku wealth is the number one.

Beranjak pada masa SMP dan SMA aku di titipkan di sekolah swasta Islam. Mereka ingin aku menjadi sesosok anak gadis yang sholehah. Menitipkanku disekolah islam dan mengasramakanku  bagi mereka, itu semua sudah cukup. Di SMP aku tidak tumbuh menjadi anak yang sholehah, aku terkenal dengan seorang yang pendendam, pemarah, hobi menjelek-jelekan orang lain, hobi mencontek, dan terkenal pula sebagai orang yang pernah korupsi uang kas kelas. Tapi dalam perihal menutup aurat aku lebih unggul dari teman-temanku. Tak pernah sekalipun aku mengenakan jeans dan baju ketat. Pembimbing di asramaku terkadang bangga dengan busanaku yang tak pernah nyeleneh itu. Alasanku pada tak pernah bercelana jeans dan berbaju ketat pada waktu itu, karena aku memiliki tubuh yang gemuk. Susah mencari ukuran jeans yang sesuai dengan gemuknya badanku, dan berbaju ketat akan membuatku seperti buntelan nangka.

 Ustadzahku di sekolah pernah menasehati bahwa menutup aurat itu adalah kewajiban seorang muslimah.“anak-anakku seorang wanita yang mengaku dirinya adalah seorang muslim, maka wajib baginya menutupi auratnya. Sebagaimana yang tertera dalam Q.S An-Nur ayat 31 yang artinya, ‘Katakanlah kepada wanita yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka Menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung kedadanya, dan janganlah Menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka,atau putera-putera suami mereka,atau saudara-saudara laki-laki mereka, atauputera-putera saudara lelakimereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam,atau budak- budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. danbertaubatlah kamu sekalian kepada Allah. Wahai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.’ Menutup aurat adalah Allah yang mewajibkannya anak-anak, jadi tak ada alasan bagi kita untuk tidak melaksanakan perintah-Nya untuk menutup aurat.” Jelas ustadzahku pada saat itu.

Masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri nasehat yang dilontarkan oleh ustadzahku itu. Bagiku yang mewajibkan menutup aurat itu adalah sekolah dan asrama, bukan Allah.

Beranjak satu tingkat lebih dewasa, di SMA aku sudah memulai meminuskan kenakalanku. Amarah sedikit banyaknya sudah bisa ku kuasai, berbohong sudah aku minimalisir, menjelek-jelekan kekurangan orang lain sudah kukurangi. Namun, dimasa SMA aku terjebak dalam hubungan percintaan. Selama menduduki bangku SMA pernah 3 kali aku berpacaran. Di SMA aku terkenal sebagai juara kelas yang doyan pacaran. 

 Ajakan kebaikan baru membuncah dalam jiwa ketika aku beranjak memasuki dunia perkuliahan.  Banyak yang menuntunku kepada kebaikan, terutama untuk mendekatkan diri kepada Sang Khalik, Allah s.w.t. Diwaktu itu aku berusaha untuk menjadi lebih baik, mengubur masa lalu yang kelam walau tak sepenuhnya trauma di masa lalu mampu aku enyahkan.

Berkutik dengan masa lalu, membuat terciptanya keheningan diantara kami. Berjalan dengan sama-sama membisu. Aku berkutik dengan masa laluku dan sepertinya Ayyi pun sedang berkutik dengan perkara yang sedang mengusik pikirannya. Gerbang sekolah tak terasa telah kami lewati, kini kami menuju tempat reunian dilaksanakan, tempat nongkrong di kantin belakang sekolah.Dari kejauhan telah terlihat 3 orang lelaki sedang bercakap-cakap. Dari gayanya sepertinya  akau tau siapa mereka. Salah satu di antaranya aku yakin dia adalah mantan pacar pertamaku. Pertama kali aku pacaran ketika di bangku kelas 11. Maraknya pacaran waku itu sedang menggandrungi teman-teman seangkatanku. Sehingga aku pun terjerumus oleh ajakan mereka, mencoba pacaran  yang menjadikan aku ketagihan. Ya, pacaran bak merokok yang dapat menyebabkan kecanduan dan tentu merusakan juga. Mantan pacar pertamaku, mantan pacar yang paling nice. Pernah juga ia di angkat sebagai ketua PMR. Indah memang pacaran itu. Tentunya indah bagi orang yang awam akan pengetahuan agama. Setelah mengenal Islam lebih luas terasa menjijikkan pacaran itu. Berkhalwat, berpegangan tangan, zina mata, zina hati dan zina anggota tubuh yang lain. Astaghfirullah al adzim. Ampuni hamba-Mu ini Ya Rabb, ampun seluruh kenistaan hamba di masa lalu. Sungguh dimana iffahku selaku muslimah pada waktu itu sehingga aku rela menistakan diri !

Jarak kami yang semakin dekat membuat wajah mereka terlihat jelas. Dari kejauhan mereka telah menyapa Ayyi. Namun tidak menyapaku. Entahlah mengapa. Sewaktu SMA hubunganku baik-baik saja dengan mereka bertiga, walau mereka semua dari IPA.

“assalamualaikum ibu ustadzah.” Ucap Ziddan kepadaku, ketika telah sampai kami di jarak 2 meter berdekatan dengan mereka. Jujur tercengang aku mendengar salamnya. Tak biasanya dia sesumbar salam, kepada Ayyi pun ia tak mengucap salam.

“waalaikumussalam Wr.Wb  Alhamdulillah di panggil Ustadzah, semoganya bisa menjadi seorang Ustadzah hehe” Tembalku kembali menanggapi salamnya.

“kamu terlihat lebih tuanya, Ima.” Celoteh Ilan. Dia teman SMA yang memang sering melontarkan pertanyaan dan pernyataan yang membuat orang ngejleb.

“tua karena jilbabku ini?” tanyaku kembali

“jilbab? Bukan jilbab tapi gamismu itu Ima !”

Aku terkekeh mendengar jawabannya. “Ilan gamis dan jibab itu sama saja. Orang Indonesia itu salah mengartikan bahwa jilbab itu adalah kerudung. Jilbab, pakaian yang menutupi aurat wanita atau baju kurung yang menjuntai lurus dari leher hingga matakaki. Sementara kerudung atau yang dalam b.arab familiar dengan sebutan khimar hanya menutupi rambut hingga ke dada. Ya memang banyak yang bilang aku tua dengan jilbabku ini. Tapi aku tak pernah menanggapi semuanya. Lagi pula perintah berjilbab telah jelas tertera dalam Q.S Al-Ahzab ayat 59.”

“oo gitu… aku baru tau tuh Ima. Wah cocok nih kamu jadi ustadzah disekolah ini hehe” ledeknya kepadaku.

Tak hanya satu atau dua orang yang mengatakan aku tua dengan gaya busanaku ini. Bibi dan bibi iparku pernah menyatakan hal serupa.“Ima kau ini masih muda. Usiamu baru menginjak 18 tahun, tapi lihatlah gaya pakaianmu itu seperti seorang ibu-ibu. Bibi saja yang sudah punya anak enggak pake baju model gitu. Baju gamis itu cocok di pake kalau kamu sudah menikah, sudah punya anak.” Celoteh bibi iparku, ketika pertama kalinya melihatku mengenakan jilbab.

Hal serupa pernah bibi lontarkan juga kepadaku “aduh neng, atuh kalau pake baju itu yang modis, yang lagi trendy. Coba liat di TV-TV memang ada cewek-cewek yang pake baju model seperti yang neng pake?”

Dalam bergaya busana aku kalah keren dengan kedua bibiku. Jadi pantas saja mereka banyak berkata A, B, C tentang gaya busanaku. Bisa dikata juga mereka merupakan korban akibat dampak buruk dari westernisasi. Seberapa banyak mereka berkomentar tentang gaya busanaku, tak pernah sepatah katapun aku serap. Tak pernah aku meribetkan komentaran mereka. Masa kelam bibiku yang pernah hamil diluar nikah dan married by accident telah semakin mengukuhkanku bahwa menutup aurat itu perlu. Mungkin apa yang terjadi pada bibiku salah satu penyebabnya adalah busana yang dikenakan. Wallahua’lam bi showab.

Mentari kian membumbung tinggi, pancaran cahayanya telah memanaskan bumi. Jam tangan pun telah menunjukkan pukul 10.15 WIB. Satu per satu teman-teman seangkatan telah berdatangan. Ada yang datang sendiri, ada yang dengan kekasih lamanya. Tak semua teman seangkatanku datang. Hanya mereka yang melanjutkan kuliah yang datang pada hari ini. Sementara mereka yang bekerja tak ada satu pun yang datang.Mayoritas dari teman seangkatanku kaget melihat busanaku yang sekarang berjilbab. Selain itu, menurut mereka aku yang dulu semasa SMA anak yang cerewet, sekarang telah berubah menjadi seorang yang lebih alim. 

Aku sendiri pun merasakan perubahan itu. Setelah aku berjilbab, pergaulan yang bercampur baur antar lelaki dan perempuan sedikit banyak membuatku risih. Sehingga kini aku membatasi gerak terhadap seseorang yang bukan mahromku. Betapa luar biasanya pengaruh jilbab bagi perubahan sikap ku ini.Kini aku ingin menjadikan jilbab sebagai identitasku, bahwa aku adalah seorang muslimah. Entah mengapa reunian ini membuatku bangga akan jilbab sebagai style customku. Tak ada satu temanku pun yang menggunakan jilbab. Hanya aku seorang diri. Jilbab yang membuatku menjadi pembeda diantara teman-teman perempuanku yang lain. Yeah, jilbab is my identity. Tak ingin lagi aku dikenal orang sebagai Ima yang pemarah, pembohong, tukang ngeghibah, doyan pacaran atau sifat negatif lain yang dulu pernah teman-teman serta guru-guru sandangkan kepadaku. Kini, aku ingin dikenal sebagai Ima yang berjilbab. Tentu  tak hanya berjilbab untuk menjilbabi aurat tapi berjilbab untuk menjilbabi hati.

Rabu, 22 Januari 2014

Sesal

Aku terbangun 
Di waktu yang tlah lama pergi
Kupandangi buana sekitar
Tak ada kesamaan lagi

Aku terbuai, terlena
Oleh pesona nostalgia
Kukira ini waktu yang sama
Namun aku terlupa ini buana yang jauh berbeda

Sejuta sayat yang menyelimuti
Menyertai usangnya diri
Sudah waktu yang lama aku bermimpi
Namun tak pernah ku pantaskan diri

Sesal yang kini ku hadapi
Tamparan diri yang paling menyakiti
Adakah waktu yang dapat kusiasati?
Agarku mampu pantaskan diri
 

Sample text

Sample Text

Sample Text

 
Blogger Templates